Rabu, 01 April 2015

Cerita Rakyat Batu menangis dengan Sangat Kesohor

malulah bu kalau beta hanya bawa duit sedikit, ayolah mama.. ibu belikan tepung itu kepasar kota”

Karena terus dipaksa oleh anaknya kesudahannya ibunya pun rela asalkan anaknya juga mau ikut ke pasar kota.
Esok harinya mereka pergi simpatik. Sang gadis memakai baju yang rupawan sedangkan ibunya mengenakan baju yang sudah tua. Perjalanan mulai rumah kepasar puri lumayan jauh. Hari semakin panas, anaknya memakai payung untuk melindungi kulitnya namun ibunya dibiarkan kepanasan. Di perjalanan itu bertemu dengan seorang pemuda
“ non-a … kenapa situ memakai payungnya tunggal, lihatlah ibumu kepanasan” kata sang anak muda. “tidak apa-apa” elakan sang gadis.
Lalu mereka bertemu juga dengan salah satu tetangganya, tetapi tetangganya tersebut tidak mengenali ibunya.
“ non-a … berjalanlah dengan lumayan pelan, lihatlah ibumu dia tertinggal” “Kaupikir dia ibuku, sungguh dia bukan ibuku, dia pembantuku”
“ tapi wajah kalian mirip”
“tidaklah kalian tidak mirip” sambil berjalan dengan lumayan cepat. Sehingga ibunya makin tertinggal senggang di belakang.
“Ibu cepatlah sedikit… awak ingin cepat cukup dan cepat putar, ibu membuatku sumbang saja.. ” teriakan anaknya.
Mendengar ucapan dari anaknya ini, sang ibu habis dan terdiam, di dalam hatinya ia mendakwa kepada Tuhan semoga menghukum anaknya yang durhaka itu. Tak lama kemudian ketika gadis itu sasaran melihat kebelakang kakinya terasa kaku, susah digerakkan dan sedari berwarna hitam.
“ibu… kenapa dengan kakiku ini bu..? ”
“ibu tolong aku bu..? ” iapun sadar bahwa tersebut adalah hukuman daripada Tuhan untuknya.
“ibu maafkan aku…” pekik anaknya sambil menangis.
Kemudian seluruh tubuhnya berubah menjaadi batu dan masih menjungkalkan air mata. Ibunya sangat sedih melihat hal itu namun demikian ibunya tidak belokan arah berbuat apa-apa juga karena hukuman itu sudah menimpa anaknya.

referensi:
http://www.ceritabahasainggris.net/2013/07/legenda-batu-menangis.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Legenda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar