Jumat, 07 Agustus 2015

Membentuk Kepemimpinan Melalui Pelaksanaan LDK OSIS

Kalender LDK ini ialah program tahunan yang wajib diikuti sambil semua siswa. Karena dengan kegiatan LDK ini diharapkan berkembang kesadaran dan kewenangan siswa terkait banyak hal selama menjadi seorang pelajar. Tidak bisa dipungkiri masih penuh siswa yang saja bergantung pada sosok tuanya mulai dari hal terkecil hingga hal-hal yang sebetulnya siap dipersiapkan sendiri. Lama-kelamaan ketergantungan ini bakal menjadi penyakit secara sulit untuk dihilangkan. Bagi siswa daripada kalangan menengah kebawah kemandiriaan adalah hal mutlak. Sedangkan untuk siswa kalangan mengusik kemandirian adalah jasad hal yang perlu di perjuangan. Olehkarena itu untuk menjadi mandiri ditengah fasilitas yang serba disediakan ialah perjuangan yang luar biasa berat. Saya tetap ingat betul pengampu saya mengajarkan kebebasan melalui tugas harian. Mulai dari mencuci piring setelah makan, meragi halaman setiap cepat hingga mencuci rok. Life skill yang tidak diajarkan disekolah mereka ternyata sangat bermanfaat terutama setelah abdi jauh dari wali. Hampir sejak pasti SMP hingga kini saya tidak ngerasa kesulitan dengan hal-hal kecil tersebut. Sebab orang tua sudah membekali life skill semenjak masih kecil. Selesai SMP saya disekolahkan di sebuah pesantren. Seperti kita ketahui kehidupan di wisma serba mandiri. Mulai dari mencuci baju, menyetrikanya hingga melipatnya sampai terlihat rapi terabadikan di lemari. Memang tidak semua bedeng demikian. Asrama segar saat ini mungkin kian enak karena tutup ada fasilitas laundry dan sebagainya. Sehingga terselip hal yang justru hilang disitu. Sediaan life skill tidak didapatkan karena seluruh masih serba di layani.

  Nah, di kegiatan LDK pelatihan indonesia tersebut para panitia pendapat memberikan shock therapy kepada para siswa. Selain diberikan persediaan materi yang menyimpangkan menarik adalah praktiknya dilapangan. Apakah roh kepemimpinannya muncul / tidak ketika dikasih beberapa kasus mungil. Sehingga setiap kekhilafan yang dilakukan sambil para siswa pasti akan selalu pada permasalahkan oleh komisi. Hal ini dijalani tentu saja bukan tanpa alasan. Panitia hendak melihat sejauh mana daya kritis serta cara berpikir siswa ketika berada di dalam tekanan. Menjadi seorang pemimpin tentu saja pantas tegas, tangkas dan mampu mengambil sekalian resiko dalam situasi terdesak sekalipun.



Saya sendiri terus terang bukan kuat menahan tawa saat memarahi anak-anak dengan permasalahan-permasalahan dengan sebetulnya sepele. Akan tetapi, prosedur tetap mesti dijalankan. Awalnya abdi ditunjuk sebagai inang yang paling bertanggung jawab dilapangan. Dalam arti saya harus jadi guru yang memalingkan galak. Tapi, sayangnya saya gagal menjalankan misi tersebut. Aku kadang tidak bisa menahan tawa tatkala melihat tingkah ulah anak-anak yang super polos ketika dalam marahi.

Barang Bawaan Mulai awal kedatangan kami sengaja merazia barang-barang bawaan para siswa.
Mereka sebelumnya sungguh diberikan daftar barang yang wajib untuk. Jika ada dengan lebih atau lebih dari itu berkurang maka bakal ada konsekuensi unik yang harus turun. Hampir semua siswa tidak membawa barang-barang yang seharusnya untuk secara lengkap berdasarkan item list secara sudah dibagikan. Tetap ada beberapa antaralain yang lupa menuntun papan jalan, sikat gigi, gayung terutama uang saku.
referensi :
training88.com
https://id.wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar