Diusahakan sampai Muara Angke sebelum weker 06. 00. Akan tetapi ternyata karena sebelah libur akhir tahun, pra memasuki pom besi sudah ramai dan macet kendaraan secara mengantar orang-orang menunjukkan tempat penyeberangan. Bila sudah seperti ini, bettor langsung saja diturunkan di jembatan Olak Angke dan melanjutkan perjalanan dengan bentor (becak bermotor) cukup dengan membayar 5000 rupiah, kita akan diantar sampai pom bensin. Selama diperjalanan menaiki bentor, berasa sekali hawa Olak Angke di musim hujan, genangan larutan di mana-mana & yang lebih akut lagi di jalan sekitar pasar ikan banjir, terbayang lebih-lebih kotornya air dengan hitam keruh. Saya sering berfikir kenapa Muara Angke sedang begini-begini saja. Sementara itu semakin banyak orang-orang nun ingin menyeberang mendayagunakan kapal dari Olak Angke, tetapi saluran ke penyeberangan swasembada sangat tidak ranggi. Wisatawan, para nelayan pengangkut ikan, pedagang hilir mudik melalui akses jalan yang sama oleh karena itu riuh macet tidak terhindarkan. Saya berhajat pemerintah membenahi akses ke tempat penyeberangan sehingga bisa semakin nyaman melihat tingginya minat wisatawan guna menyeberang ke Kepulauan Seribu.

Cukup menutup 40. 000/orang dalam bisa menyeberang di Pulau Tidung. Trik menaiki kapal, geladak atas kapal ialah tempat yang bertambah nyaman karena cenderung udara, tersedia pun toilet di dasar bawah. Jika kita terpaksa mendapat zona duduk di kolong, jangan lupa menggunakan masker karena udara bercampur dengan bau bahan bakar. Kecuali itu tidak ada salahnya juga jika member mengambil pelampung secara sudah disediakan yang kapal, untuk bertunggu jaga jika berlangsung sesuatu, biasanya pelampung banyak di waham di pojok alias di lantai bagi.
Perjalanan di tempuh selama 3 jam, saat gelombang utama terutama di selagi hujan, cukup memproduksi mual dan termengung. Jangan lupa dalam membawa obat-obatan bersama makanan atau permainan untuk menemani selama masa perjalalan. Melihat pemandangan di luar pun menjadi alternatif bagi mengusir kebosanan sepanjang perjalanan, kita siap menemui pulau-pulau kuntet Kepulauan Seribu. Tempo perjalanan saya was-was sekali melihat tingkah laku beberapa orang yang masih terus membuang sampah gegabah ke laut. Betul2 di kapal gak disediakan tempat sampah, dan itu sebagai kewajiban kita guna menjaga kebersihan samudra, apa susahnya mencadangkan sampah dan membuangnya nanti setelah terlihat di pulau.
referensi:
http://marotravel.com/pulau-tidung-murah/
https://id.wikipedia.org/wiki/Pariwisata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar